• Search :
    • Sitemap
    • Link
    • Contact
    • Testimonial
    • Home
    • About Us
    • Where We Work
    • Species
    • Threats
    • How You Can Help
    • Fun Stuffs
    • News & Publications
  • About Us
    Where We Work
    Species
    Threats
    How You Can Help
    Fun Stuffs
    News & Publications
    Fact Sheet
    Video News
    Flyers & Brochures
    Reports
    Maps
    Press Release
    News
    Other Publications
  • News

    Catatan Forest Friends Hari Kedua: Menanam Pohon Untuk Forest Friends

    Selasa, 29 Maret 2011

    Terbangun di pagi pertama di suatu tempat baru selalu menimbulkan sensasi berbeda, begitu juga dengan di Tesso Nilo. Saya terbangun karena suara sautan kodok yang sangat keras. Menurut Bayu, salah satu staf WWF Pekanbaru, di pagi hari kita bisa mendengar suara ungko, kodok, dan gajah. Mungkin karena saya tidur terlalu lelap, saya hanya bisa mendengar suara kodok.

    Hari ini adalah hari penanaman pohon Forest Friends secara simbolis. Sebelumnya kami belajar segala sesuatu tentang rehabilitasi hutan. Mulai dari memilih pohon yang akan ditanam sampai membuat shelter untuk bibit-bibit yang akan ditanam. Pohon-pohon yang akan kami tanam didominasi oleh jenis pohon Meranti, Kempas, Pulai, dan jenis lokal Durian dan Jengkol. Jenis-jenis ini sengaja dipilih oleh petugas Taman Nasional Tesso Nilo, agar selain dapat menghijaukan kembali lahan gersang, bisa juga memberi manfaat kepada masyarakat melalu hasil buahnya.

    Ternyata rehabilitasi lahan tidak semudah yang saya kira. Untuk membuat shelter bibit saja kita perlu menebang beberapa batang pohon akasia untuk dijadikan fondasi, lalu mencangkul untuk membuat bedengan, gergaji sana-sini, tancap sana-sini, memaku sana-sini, dan memasang paranet sebagai atap. Menurut Pak Syamsuardi yang bertanggung jawab di camp Flying Squad, hanya dibutuhkan beberapa hari untuk menebang semua pohon pada 1 hektar hutan alami, tapi dibutuhkan sekitar tiga bulan untuk menanami dan memastikan pohon tersebut bisa terus tumbuh dilahan tersebut.   

     

    (Lena menunjukkan perbedaan tanah subur dan yang tidak. Tanah subur berwarna hitam. All photos (C) Annisa Ruzuar / WWF-Indonesia)

     

    Siang hari, saat matahari mulai turun dari tahta tertingginya, kami mulai menanam pohon Forest Friends secara simbolis. Saya dan Lena mendapat tempat khusus untuk menanam pohon, lengkap dengan plang bertuliskan nama lengkap kami. Di sebelah plang nama kami, tertancap pula nama Forest Friends, Balai Taman Nasional Tesso Nilo, WWF Indonesia, dan WWF Germany. Bersama-sama dengan partisipan WWF dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo, kami menanam pohon-pohon tersebut dengan cinta dan harapan yang sangat besar, bahwa suatu saat nanti pohon-pohon ini akan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi makhluk hidup lain.

     

    Ikuti perjalanan saya di Tesso Nilo!

    Catatan Harian Rima di Tesso Nilo

    Hari Pertama:  Perjalanan Menuju Tesso Nilo

    Hari Kedua: Menanam Pohon untuk Forest Friends

    Hari Ketiga: Sehari Bersama Tim Flying Squad

    Hari Keempat: Bertemu Masyarakat Lokal

    Hari Kelima: Menjelajah Tesso Nilo bersama Tim Riset Harimau

    Baca Juga Catatan Lena di WWF-Jugend!